Breaking News

Ngopi Di Warung Kopi Pak Ikin Dengan Mbak Melisa

Seorang perempuan muda tengah menunggu di balik etalase makanan ringan membelakangi kedai usang yang dimakan usia. Dia adalah Melisa (22), anak ke-7 Pak Ikin dari 10 bersaudara. Melisa adalah generasi keempat yang memegang usaha Warung Kopi Pak Ikin di Jalan Kebonjati, Bandung.
Cukup sulit menemukan warung kopi tua tersebut. Lokasinya yang terhalang oleh gerobak warung dan motor-motor yang diparkir membuat Warung Kopi Pak Ikin sulit dideteksi mata. Jangan berpikir bahwa ini adalah warung kopi fancy yang tertata sedemikian rupa. Warung Kopi Pak Ikin adalah warung kopi secara harfiah. Namun, jangan tanya urusan usia, sebab usaha warung kopi ini telah eksis di Kota Bandung sejak Indonesia merdeka di tahun 1945.

Sejak tamat SMP, Melisa sudah menunggu warung kopi tersebut bersama ayahnya, Ikin, dan kakaknya yang lebih awal sudah menjadi penjaga warung. Warung Kopi Pak Ikin tidak pernah tutup alias 24 jam beroperasi. Sampai saat ini, Melisa dan adiknya, Asep (20), bergantian menjaga warung.

Melisa jaga dari jam 06.00 WIB sampai 18.00 WIB sore. Kalau adik (Asep) dari 18.00 WIB sore sampai ke 06.00 WIB pagi lagi. Biasanya adik dibantu Abah.

Abah adalah kakak dari Ikin ini nama aslinya adalah Aan Senjaya (68). Dia bercerita bahwa warung kopi itu berawal dari kakeknya yang bernama Junanta. Aan adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha turun temurun itu. Dia mengaku tidak banyak ikut campur saat berlangsungnya usaha tersebut, sebab adiknya, Ikin, yang menjadi penerus warung.

Tahun 1945, Junanta mengawali karier sebagai penjual kopi di gerobak. Kopi tubruk dari Javaco varian melange adalah ciri khas yang dipertahankan hingga saat ini. Sampai pada 1980, Junanta membuka gerai pertama di Jalan Kebonjati, tepat di sebelah St Hall. 

Keramaian warung disebabkan oleh Hotel Cirebon dan Hotel Semarang yang pernah ada di samping kanan warung.  Kemudian di depannya adalah pangkalan angkutan luar kota 4848 dan para penjual sayuran yang berjejer sebelum Pasar Baru bertransformasi menjadi mal. Masuk tahun 1990, Ikin mengambil alih warung dan anak-anaknya ikut membantu.

Tentu warung kopi ramai dikunjungi oleh para pengunjung hotel, penumpang bis, dan orang-orang di sekitar warung yang berlalu lalang.  Bahkan, dulu tembok warung itu bersih karena dipakai iklan sama rokok Sampoerna.

Tidak ada kursi yang kosong ataupun gelas yang berdiri rapi. Warung Kopi Pak Ikin memperkerjakan tiga orang sebagai pencuci gelas dan piring di depan warung. Pelanggan berjejer, bahkan nongkrong depan warung hingga rasanya tak ada istirahat untuk Ikin dan anak-anaknya menyeduh kopi.

Tahun 2012 bapak Melisa meninggal dan warung perlahan sepi. Lambat laun, Warung Kopi Pak Ikin tidak lagi trendi.

Melisa berkata bahwa dampak ayahnya yang wafat tinggal menyisakan memori. Para langganan pun turut dimakan usia dan tak lagi datang ngopi. Karena Sama-sama sudah pada tua, jadi banyak yang sudah wafat.

Kendati demikian, masih ada beberapa pelanggan setia yang menyeruput kopi khas Pak Ikin yang air panasnya direbus di atas arang. Dia adalah Juhara (59), supir taksi lintas Husein yang sering nongkrong di sana.

Di sini kopinya beda, khas direbus di atas arang. Dari dulu sampai sekarang, kopi tubruknya dari Javaco, roti bakar dan telor setengah matangnya juga juara.

Tidak ada menu istimewa yang ditawarkan di Warung Kopi Pak Ikin. Biasa saja, seperti warkop pada umumnya. Kopi tubruk, kopi susu, roti bakar dan lain-lain. Namun, kopi tubruk Javaco yang direbus di atas arang jadi yang paling istimewa di sini. Atau, setidaknya kamu bisa “membeli kenangan” di Warung Kopi Pak Ikin.

Bagi kaum milenial, nongkrong di kafe adalah gaya hidup yang mesti dijabani. Ramai-ramai pebisnis muda meracik kopi dengan berbagai metode dan menyuguhkan tempat nongkrong asik yang Instagram-worthy.

Namun, masih ada warung kopi lama yang bertahan hingga saat ini. Namanya Warung Kopi Pak Ikin yang terletak di Jalan Kebonjati, sebelah St.Hall. Tidak ada plang atau spanduk semacamnya, kamu perlu teliti menyusuri jalan tersebut.

Ada berbagai alasan kenapa kamu wajib menyambangi warkop ini. Berikut uraiannya 

Kopi Tubruk Pakai Javaci Malenge
Sejak 1945, kopi yang dipakai di warung ini adalah Javaco varian mélange. Aromanya yang wangi dan khas menambah rasa nikmat menyeruput segelaskopi tubruk yang airnya dimasak menggunakan arang. Tentu ritual ngopi seperti ini akan terasa nikmat jika dibarengi dengan duduk di gerainya.

Harga Paling Mahal Rp. 5000,- 
Sepertinya tidak ada kafe yang menjual harga termahal Rp 5000 saja. Hanya di Warung Pak Ikin kita bisa minum kopi tubruk Rp 5000 dan roti bakar dari pabrik roti legendaris, Djie Seng. Selain kopi tubruk khasnya, Warung Pak Ikin menjual kopi rencengan seperti Kapal Api atau Good Day. Segelas kopi saset dibanderol Rp 3000.

Roti Bakar Di Atas Arang
Roti bakar Warung Pak Ikin adalah menu favorit pelanggan. Selain rotinya dibeli langsung di pabrik legendaris Djie Seng, pembakarannya tepat di atas arang. Jelas berbeda rasa yang ditawarkan dari roti bakar di atas gas elpiji dan pembakaran arang. Aroma yang berbeda makin menggiurkan untuk sarapan roti bakar sampil menyeruput kopi khas Pak Ikin. Harga roti bakarnya Cuma Rp 4000 saja.

Buka 24 Jam
Jarang sekali kafe melayani sampai 24 jam. Melisa (22) generasi keempat Warung Kopi Pak Ikin mengatakan banyak pelanggan yang datang di atas jam 11 malam. Sehingga warung kopi tua ini tidak pernah tutup pintu. Warkop Pak Ikin setia melayani siapa saja yang hendak ke toilet atau musala yang tersedia di belakang warung sambil  ngopi di malam hari. Seperti toilet pada umumnya, tarif Rp 2000-3000 dipampang nyata di sebelah pintu toilet. Kalau lewat Jalan Kebonjati, jangan khawatir warkop ini tutup pintu, sebab kamu bisa menikmati kopi dan roti bakarnya kapan saja.

Sensasi Minum Kopi Di Kedai Tua
Sekali-kali jadilah generasi muda anti-mainstream yang menghargai sejarah dan euforia minum kopi di kedai tua. Pernah berjaya hingga tahun 2012, Warkop Pak Ikin tetap ada melayani pelanggan. Meski tembok dan atap langitnya telah usang dimakan usia, rasa dan atmosfirnya tetap sama seperti dulu kala. Meski Pak Ikin telah wafat, langganan tetap berdatang untuk sekadar duduk dan menyeruput kopi di alas gelas kopinya. 
☆☆☆☆☆

No comments