PT. WARUNG KOPI PAHIT, Tbk.

Friday, August 25, 2017

Lintas Pikir Daya Beli Masyarakat Warung Kopi

Memiliki barang-barang yang memang sangat diperlukan akan tetapi gaya hidup Masyarakat Warung Kopi adalah tidak berlebihan dengan membeli barang-barang yang tidak terlalu mereka butuhkan dalam kehidupan. 

Barang-barang yang mereka beli adalah yang memang benar-benar mereka butuhkan. Bagi mereka, barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan itu hanya akan mengganggu mereka (clutter). Memiliki banyak barang berarti mereka juga perlu menyiapkan ruang untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sehingga mereka mengeliminasi barang-barang yang tidak terlalu mereka butuhkan dan hanya memiliki barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan dalam hidup ini. Orang-orang yang hidup sebagai Masyarakat Warung Kopi haruslah itu tidak mudah terkena bujuk rayu iklan-iklan di televisi yang merayu-rayu pemirsa untuk memiliki barang-barang tidak terlalu dibutuhkan dalam hidup mereka.

Tidak terbebani keinginan untuk memiliki barang-barang yang berlebihan dan bahkan sebatas ingin memiliki saja sudah berhasil mereka atur sedemikian rupa. Hingga mereka sampai pada kondisi tidak terbebani oleh keinginan-keinginan untuk memiliki barang-barang yang berlebihan dan tidak terlalu diperlukan. Masyarakat Warung Kopi itu adalah semacam kondisi pikiran seseorang. Kondisi pikiran ini kemudian memberikan corak dan arahan terhadap perilaku sehari-hari orang yang hidup sederhana. Ciri-ciri hidup Masyarakat Warung Kopi adalah mereka mampu mengendalikan lintasan-lintasan kondisi pikiran mereka (State Of Mind).

Ciri-ciri hidup lainya dari Masyarakat Warung Kopi adalah tidak menghambur-hamburkan uang untuk belanja secara berlebihan. Orang-orang yang hidup sebagai Masyarakat Warung Kopi akan mencatat daftar belanjaan sebelum mereka berangkat ke pasar atau ke supermarket. Dengan memiliki catatan daftar belanja maka orang yang hidup mereka akan lebih fokus dalam mencari barang-barang belanjaannya. Tidak mencatat daftar belanjaan hanya akan menjadikan seseorang berputar-putar di pasar atau di supermarket dengan penuh kebimbangan. Bahkan terkadang sampai ada yang lupa ada barang yang tidak terbeli dan baru ingat ketika sudah sampai di rumah.

Karena mereka memiliki catatan daftar belanja maka mereka tidak terlalu berpengaruh ketika pihak supermarket mengubah-ubah penataan susunan barang-barang display. Trik supermarket dengan mengubah-ubah formasi susunan barang-barang display adalah supaya pembeli kebingungan dalam mencari barang yang mereka cari sehingga pembeli menghabiskan banyak waktu untuk berputar-putar mengelilingi supermarket dan mereka akan lebih banyak melihat barang-barang lain yang dipajang sehingga hal ini akan memperbesar keinginan mereka untuk belanja barang-barang yang sebetulnya tidak mereka rencanakan untuk dibeli. Meskipun juga pergantian-pergantian penataan formasi barang-barang ini juga bertujuan supaya tidak terjadi kebosanan bagi pengunjung supermarket.

Sadar akan pentingnya pengaturan keuangan berarti sadar dan menjalankan pengaturan keuangan pribadi (self finance). Orang-orang yang hidup sederhana akan cermat dalam mengatur keuangan pribadi. Mereka menyusun anggaran keuangan pribadi dan keluarga. Mereka sadar bahwa dengan pengaturan keuangan secara cermat maka mereka bisa terlepas dari bencana kekacauan keuangan hingga mereka mengalami penderitaan.

Karena orang-orang yang hidup sebagai Masyarakat Warung Kopi sudah mengatur keuangan mereka secermat mungkin, maka mereka tidak sampai pada kondisi tidak punya uang sehingga mengharuskan mereka untuk berhutang. Orang yang hidup seperti ini akan berpikir berulang kali sebelum mereka melakukan aksi hutang. Mereka sebisa mungkin tidak terjatuh dalam hutang dan sekuat tenaga menghindarkan diri dari hutang. Yang parah adalah ketika mereka melakukan tindakan hutang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan sekunder dan bersifat konsumtif.

Bila seperti itu maka akan benar-benar semakin mengacaukan kondisi keuangan mereka. Yang lebih parah lagi adalah ketika mengajukan kredit ke bank dengan tujuan akan membangun usaha produktif namun ternyata justru untuk membeli mobil pribadi, dan akhirnya kesulitan ketika harus mengangsur cicilan pembayaran hutang. Sudah barang tentu orang-orang yang hidup Masyarakat Warung Kopi tidak akan pernah untuk melakukan aksi kegilaan-kegilaan keuangan seperti itu.
---------------------------------------------------------------------------------