PT. WARUNG KOPI PAHIT, Tbk.

Monday, July 24, 2017

Di Surabaya "Nopi" menjadi "Cangkruk dan Nongkrong"

Kala malam menjelang belum lengkap rasanya bagi warga SURABAYA untuk tidak melakukan aktivitas Nongkrong bersama Komunitas.

Nongkrong dan ditemani secangkir kopi apalagi, seakan sudah mendarah daging bagi orang muda sampai orang dewasa. Meski begitu, belum banyak penyuka kopi yang memahami rasa dan jenis-jenis kopi asli Indonesia.

Alasan itu ini yang kini menjadi potensi bisnis kedai kopi yang mulai menjamur di SURABAYA. Bisnisnya terbilang kecil karena tidak membutuhkan modal besar dan tentu harganya sangat mudah dijangkau seluruh kalangan.

Walaupun tempatnya sederhana namun bisnis warung kopi di SURABAYA ini begitu menjamur. Hal ini tentu saja sangat baik untuk menggerakkan roda perekonomian di SURABAYA ini. Warung-warung kopi disini biasa buka 24 jam dan banyak pembeli biasanya dari mau berangkat kerja, istirahat siang, maupun sehabis pulang aktivitas kerja selalu mampir di warung kopi untuk sekedar minum kopi maupun es. Belum lagi untuk malam hari hingga larut malam masih banyak kita jumpai begitu ramai di warung-warung kopi di kota Surabaya ini. Walaupun hanya untuk sekedar minum kopi dan mengobrol, untuk daerah Surabaya sini masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah "Cangkruk" atau bahasa Jawanya "Nongkrong".

Berangsur-angsur, warung kopi menjadi pusat informasi dan pertukaran gagasan masyarakat urban. Kalangan pekerja menyempatkan diri mampir di warung kopi untuk membaca koran atau mendengarkan isu baru. Ramainya pengunjung warung kopi dalam menyampaikan gagasan dan wacana menjadikan warung kopi memiliki kekuatan politis di mata penguasa. Di warung kopi, mengikuti gagasan Jurgen Hebermas, pengunjung yang menerorkan wacananya tidak dipandang karena latar belakang statusnya. Semua pengunjung dapat berwacana tanpa terpatok pada status sosial yang bersangkutan. Inilah yang menjadi dasar terbentuknya rasionalitas dalam berwacana. Kuasa Kerajaan & Borjuis yang sebelumnya menentukan wacana publik tenggelam oleh Rasionalitas.

Warung kopi harusnya diartikan sebagai tempat di mana semua kalangan bisa masuk ke dalamnya, dari yang bersarung sampai bercelana kain, yang bersandal jepit sampai bersepatu pantofel, dari yang berkaus oblong sampai berkemeja, semua tidal ada bedanya. Mereka bisa Cangkruk & Nongkrong  bersama menyatu dalam kepulan asap rokok, menyeruput kopi dengan harga yang sama dan nikmat yang setara.

Warung kopi memang bukan tempat yang tepat untuk kamu yang ingin meneguk olahan kopi modern seperti Mochiato, Drape atau Espres, tapi hanya sekedar Kopi Tubrik dengan harga yang sangat murah, ditemani penganan ringan, mie instan atau nasi tabokan.

Saat ini warung kopi tak hanya menjual kopi hitam sebagai menu utamanya, namun juga menjual aneka minuman instan dalam kemasan sachet, sehingga makna Ngopi pun sekarang bergeser menjadi Cangkruk & Nongkrong di warung kopi saja, meskipun minuman yang dipesan bukan kopi, namun sebutan untuk kegiatan tersebut tetaplah ngopi.
---------------------------------------------------------------------------------