Warung Kopi Pahit

PT. WARUNG KOPI PAHIT, Tbk.

Breaking News

Saturday, June 15, 2019

Ada Makna Dibalik Filosofi Kopi

June 15, 2019 7

Ki Paut Anomsari
Filosofi Kopi Bagiku: Bukan Review Film
Budaya minum kopi dibawa oleh kaum sufi. Baru tahu kan?
Saya penikmat kopi, tapi bukan pemuja apalagi pencandunya. Buat saya pilihan meminum teh, kopi, cokelat, atau susu itu seperti memilih empat mazhab fiqh. Semuanya layak dinikmati tanpa harus fanatik atau menghujat pilihan yang berbeda.

Tapi gara-gara Dee Lestari yang menulis cerita Filosofi Kopi yang kemudian difilmkan itu saya jadi lebih bisa mengapresiasi kenapa orang sampai fanatik soal pilihan kopi. Dimulai dari perkebunan kopi, memilih biji kopi terbaik, sampai kemudian meracik dan menghidangkannya dalam secangkir kopi semuanya membutuhkan kesungguhan, skill dan sentuhan cinta. Ada makna filosofis di balik kopi.

Sudjiwo Tedjo misalnya pernah menulis seuntai kalimat ini:
Jika yang suci selalu bening, maka tidak ada kopi diantara kita.

Atau yang satu ini:
Kekasih, engkau kopi puncak malamku, pahit dan kelam tanpa kusedu.

Indah bukan? 
Semua gara-gara kopi.

Tapi tahukah anda bahwa kopi sebenarnya berasal dari Yaman sehingga sampai kini muncul istilah kopi arabica? 
Facebook boleh dibuat oleh seorang keturunan Yahudi.

Tapi hey kawan, budaya minum kopi pertama kali justru dibawa oleh para sufi.

Dan saya tidak bisa membayangkan ketika kita on-line tanpa secangkir kopi.

Dari kata Qahwah dalam bahasa Arab diderivasikan kata baru dalam bahasa Inggris yaitu coffee dan cafe.

Para sufi di Yaman meminum kopi sebelum memulai ritual zikirnya.

Kabarnya meminum kopi membuat mereka lebih konsentrasi dan fokus (dalam bahasa keagamaan: lebih khusyu).

Maka dari Yaman menyebarlah tradisi minum kopi ke Mekkah, Mesir dan Syria serta Turki di abad 15 dan 16 masehi.

Tapi seiring kontroversi terhadap para sufi, kopi pun sempat diperdebatkan halal-haramnya oleh para ulama di Mekkah, Kairo dan Istanbul pada masa itu.

Efek kafein di dalam kopi dianggap setara dengan efek alkohol.

Bahkan ada yang mengharamkannya karena dianggap menyerupai budaya meminum wine di masyarakat barat.

Ah....
Memang orang fanatik dimanapun berada senangnya curiga terus dengan budaya luar.

Tapi kopi bukan hanya sekedar milik para sufi.

Dibukanya kedai kopi di banyak tempat telah menjadi arena orang berkumpul sambil ngobrol.

Yang diobrolkan dari sekedar curhat sampai soal sastra, agama dan politik.

Iya, kata yang terakhir ini menjadi alasan lainnya mengapa meminum kopi bisa dianggap berbahaya.

Di banyak tempat kedai kopi menjadi forum obrolan politik mengkritik penguasa tiran.

Dan penguasa tiran segera meminjam tangan para ulama untuk mengeluarkan fatwa hukuman mati untuk peminum kopi, seperti dilakukan oleh Sultan Murad IV (1623-1640).

Dari Yaman dan Istanbul, kopi menyebar ke dunia barat.

VOC Belanda yang semula berdagang di nusantara terus lama-lama menjajah itu juga punya andil besar menyebarkan kopi dari wilayah nusantara ke Eropa di abad 17.

Dan ketika masuk ke Eropa, pada mulanya kopi dicurigai sebagai minuman muslim dan banyak yang enggan meminumnya.
(kalimat saya di atas berlaku juga di sini: ah memang orang fanatik dimanapun berada senangnya curiga terus dengan budaya luar).

Baru setelah Paus Clement VIII dilaporkan sangat menikmati minum kopi dan keluar fatwa dari Vatikan bahwa kopi tidak selayaknya menjadi monopoli orang Islam, maka Eropa pun memulai menikmati tradisi baru ini, dimana sebelumnya tradisi Eropa itu meminum teh.

Lantas belakangan muncul cita rasa baru dalam meminum kopi. Kopi arab yang terasa berat dengan wangi jahe dan disajikan dalam gelas kecil, digantikan dengan kopi yang dicampur rasa beraneka ragam dengan gelas yang lebih besar.

Starbucks perusahaan kopi Amerika itu menjelma menjadi perusahaan internasional.

Tapi tak semuanya berhasil ditembus Starbucks.

Di Australia kedai kopi cita rasa Amerika itu banyak yang tutup karena orang Australia merasa mereka punya tradisi meminum kopi sendiri.

Begitulah, akhirnya kopi menjadi bagian dari budaya setempat, dimanapun berada.

Dan masing-masing mengklaim memiliki tradisinya sendiri.

Kopi bukan lagi sekedar secangkir tapi telah menjadi teman saat berzikir dan berpikir.

Satu hal yang kita harus ingat:
Sesempurna-sempurnanya racikan kopi anda, pasti tetap ada rasa pahitnya.
Itulah filosofi kopi.

Mungkin begitu juga kehidupan ini.

Benarkah demikian? 
Silahkan saja dinikmati maknanya sambil menyeruput kopi anda hari ini.
☆☆☆☆☆

Kopai Osing Di Sanggar Genjah Arum, Surga itu ada di secangkir kopi Indonesia.

June 15, 2019 5
Di Sanggar Genjah Arum, dengan meminum secangkir kopi akan menemukan kenikmatan rasa yang tidak pernah ditemui sebelumnya.
Surga itu ada di secangkir kopi Indonesia.

Masuk ke sanggar, pengunjung akan disambut Othek yang dimainkan enam nenek-nenek. Othek adalah musik tradisi Osing, suku asli Banyuwangi. Musik dimainkan dengan cara memukulkan alu ke lesung padi.
Othek, musik dari lesung padi yang dimainkan enam nenek-nenek sebagai tradisi penyambutan tamu di Sanggar Genjah Arum. (ikbal)

Suasana sanggar yang teduh nan hangat terasa, sangat pas untuk menikmati kopi. Diketahui Sanggar Genjah Arum bukanlah sanggar seni, melainkan kedai kopi.

Namun demikian pertunjukan seni tradisional Osing selalu dipertunjukkan untuk menemani tamu menikmati kopi.

Sanggar yang terletak di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur itu, dibangun dengan arsitektur rumah tradisional Osing. 

Butuh waktu 15 hingga 20 tahun untuk mengumpulkan bagian-bagian rumah hingga dapat disusun kembali menjadi tumah yang utuh.

Kopai Osing, kopi jenis arabica. 
Rasa kopi tanpa gula yang disajikan sangat berbeda dari kopi-kopi yang beredar di luaran. 

Sedikit pahit, namun minuman berwarna hitam putih serasa mampu membuat rileks seluruh badan, juga pikiran. 

Pasalnya Kopai Osing hanya tersedia di Sanggar Genjah Arum dam tidak menjual kopinya selain di tempat ini.

Kopi ini selalu sajikan di sini, tidak ada bisnis di kopi, jadi tidak sajikan di mana-mana, hanya di sini.

Alasan menamakan produknya sebagai Kopai Osing karen orang asli Banyuwangi terbiasa mengucap kata yang berakhiran i menjadi ai. Sehinga agar dapat diterima masyarakat, nama kopinya dengan Kopai Osing

Kopi yang dihidangkan di kedai berasal dari perkebunan milik dari pemilik Kedai ini. Kopi jenis arabica di tanam di kebun miliknya di ketinggian 800 mdpl. Biasanya kopi jenis arabica di tumbuh di ketinggian di atas 1.000 mdpl.

Kopi Menyehatkan
Kopi merupakan minuman yang tidak memiliki efek terhadap kesehatan. Ada tips agar kopi yang diminum menyehatkan tubuh, yaitu:
Kopi yang tanpa dampak, menurutnya adalah kopi tanpa gula.

Boleh minum kopi sampai keringatnya hitam gak apa-apa, dan tanpa gula. Gak pakai gula. Kopi itu menyehatkan, yang tidak menyehatkan gulanya.

Penggunaan gula dalam menikmati kopi, tidak lepas dari mind set orang bahwa kopi hitam itu pahit, sehingga harus ditambahkan pemanis. 

Untuk takaran konsumsi kopi dalam sehari, berbeda setiap orang, hanya setiap orang dapat mengukur sendiri berapa banyak kopi dapat dikonsumsi dalam sehari.

Jangan pernah takut minum kopi. Kopi itu menyehatkan. Terus ukuran minum kopi setiap orang selalu berbeda, yang tahu diri kita.

Member The Specialty Coffee Association, Amerika Serikat sejak 1995 itu pun membagikan filosofi dalam secangkir kopi. Menurutnya kopi tidak dapat memberikan rasa seperti yang dikehendaki, namun kopi akan memberikan semua dari dirinya untuk dapat dinikmati.

Jadi saya sampaikan kopi tidak bisa memberi apa yang kita minta. Tapi dia tidak akan berbohong. Dia akan memberikan semua yang apa dia miliki, selama dia diproses dengan baik dan benar. Baik kualitasnya benar prosesnya.

Setiap rasa kopi yang disajikan akan berbeda jika diramu oleh tangan yang berbeda. 

Meski jenis kopi dan cara pembuatannya sama, namun jika dibuat oleh tangan yang berbeda maka rasanya akan berbeda juga.

Suasana kedai kopi milik Setiawan Subekti di Sanggar Genjah Arum, Banyuwangi. (ikbal)
Khasiat kopi dalam secangkir kopi. 
Kopi yang diminum satu jam sebelum beraktivitas mampu meningkatkan mood peminumnya.

Kopi tidak hanya mengajarkan bagaimana menikmati rasa namun juga menyambung rasa. 

Seperti pesan yang disampaikan dalam bungkus Kopai Osing:
Once Brew We Bro
Sekali seduh kita bersaudara.
☆☆☆☆☆

Friday, June 14, 2019

Warung Kopi Tempat Asik untuk The New Kind of freedom

June 14, 2019 5
Kini, banyak orang lebih suka bicara di media sosial, yang memang merupakan new kind of freedom; tempat semua orang boleh dan bisa menulis atau berbicara tentang apa saja, mau fakta ataupun hoax, siapa yang tahu; karena yang biasanya lebih dinilai adalah bentuk atau cara menyampaikannya, bukan esensinya.

Padahal ada tempat yang lebih asyik untuk memuntahkan kesumpekan dan ke-random-an kehidupan, yaitu: warung kopi.

Apakah warung kopi benar efektif dalam menyelesaikan persoalan personal, kelompok, maupun bisnis?
Sebetulnya, warung kopi alias warkop lah media paling santai untuk mempertemukan kepentingan, hingga bisa terwujud kesepakatan bersama dalam berbagai kebijakan, sampai penyelesaian masalah yang terjadi di sekitar kita.
Konflik Aceh misalnya, mereda karena ada kesedaran melakukan pendekatan dengan masyarakat Aceh untuk berdialog bersama di warung kopi.

Atau keberhasilan Joko Widodo ketika masih menjawab sebagai walikota Surakarta, yang memindahkan para pedagang barang bekas yang sudah bertahun-tahun bergeming kalau mau dipindahkan.

Pendekatan komunikasi yang dilakukan Jokowi selama tujuh bulan kala itu mengoptimalkan perbincangan di warkop khas Solo, yang biasa disebut wedangan.

Lebih jauh lagi, akulturasi kebudayaan Melayu dan Cina pun berawal dari warung kopi yang tersebar di Bangka Belitung; tempat mereka dari dua kebudayaan berbeda bisa berjam-jam ngopi sambil main catur.

Tradisi ngopi merupakan tradisi yang baik dan turun temurun; bukan sekadar gaya hidup yang kini pun mewabah. Kopi adalah media komunikasi.

Belum tentu orang ngajak ngopi untuk ngopi. Bisa saja dia justru minum teh, cokelat, atau minuman lain. Ngopi di sini maksudnya nongkrong, ngobrol, dan berkomunikasi secara manusiawi.

Ada gelak tawa, curhat, dan pergaulan yang nyata.

Di manapun itu, warung kopi adalah simple wisdom yang bisa menyatukan kita. Konsep sederhana yang harus kita jaga dan terus angkat. Dari warung kopi pula tercipta gagasan sampai movement yang cemerlang, bergaya dan mengandung semangat muda, serta soulful.

Misalkan ide mengembalikan sebuah kota kecil atau desa yang hanya dihuni masyarakat berusia senja, menjadi komunitas muda dan kreatif. Lalu lewat obrolan di warung kopi pula berpotensi terbentuk konsep dasar untuk menguatkan karakter, dan mengembangkan kota atau desa itu menghadapi perkembangan kemajuan.

Warung kopi dalam kepariwisataan tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi regional dan nasional, tapi juga memberikan nilai yang baik bagi lingkungan dan kebudayaan masyarakat setempat.

Hal lain yang perlu dibicarakan selama ngopi adalah belum banyaknya kebijakan yang membantu pertumbuhan kesenian yang berbasis masyarakat.

Di negara kita, yang sebagian besar masyarakatnya masih konsentrasi pada urusan perut, mengembangkan kesenian kadang jadi jauh di awang-awang.

Hingga kita memerlukan domain tempat seniman dan masyarakat berjumpa dalam satu ruang dan waktu. Ya, paling di warung kopi.

Warung kopi bisa jadi museum, galeri, tempat berdagang kerajinan, dan hasil kreativitas masyarakat lainnya. Warung kopi bisa jadi taman budaya, tempat yang selama ini agak sulit berkembang, padahal penting untuk kita revitalisasi dan bikin jadi menyenangkan agar kebudayaan lokal bergerak maju.

Andai saja ruang seni publik dalam bentuk warung kopi. Kenapa tidak? Tempat komersial yang dapat membantu perekonomian daerah, edukasi yang positif dan kontekstual, tempat berkegiatan seni, wadah aktivitas pemerintah daerah, pusat komunikasi dan sosialisasi.

Gagasan lain yang sangat cocok dibicarakan di warung kopi adalah membentuk desa kecil untuk jadi tempat kita bekerja, bercocok tanam, berkarya, dan memberi inspirasi dan semangat kreatif untuk mewujudkan mimpi kita masing-masing.

Bicara soal ide besar industri kreatif, ada baiknya kita ciptakan dulu motivasi dan solusi kreatif untuk menuju masa depan, dan itu berawal dari desa; yang mestinya tidak ditinggalkan penduduknya untuk mencari kehidupan di kota. Bekerja dalam lingkup sejangkauan tangan kita dulu, mengajak teman terdekat untuk bergabung sebagai warga yang memiliki tujuan sosial dan kreatif.

Membantu warga memberdayakan diri, menggali, dan mengajarkan keahlian, membudayakan jiwa kreatif, mengolah sumber daya alam dengan bijaksana, dan menghasilkan produk-produk kreatif dengan desa sebagai brand-nya.

Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan untuk masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai lokal. Menggunakan teknologi sederhana yang tersedia dan hemat energi, serta mengoptimalkan sumber daya lokal dan melibatkan masyarakat dalam pembuatannya. Inilah dasar dari menempatkan desa sebagai sebuah brand, yaitu menjadikan desa sebagai pusat aktivitas warganya, yang tak hanya mampu menghidupi diri sendiri tapi juga bernilai lebih luas untuk komunitas lainnya.

Ketika desa telah berdaya maka potensi kerja dan kreatif para warganya pun mendapatkan tempat terhormat. Petani adalah pekerjaan mulia, perajin adalah seniman; selayaknya kita memberikan brand yang layak diapresiasi dan dihargai setinggi-tingginya. Output kreatif dan materialnya mungkin sama, tapi pendekatan sosiologis dan estetiknya berbeda.

Dan kolaborasi sangat dibutuhkan oleh mereka dari kebaikan hati pada seniman atau desainer yang bisa menyalurkan kreativitasnya untuk mereka.

Mari kita ciptakan makna baru bagi Indonesia yang lebih baik, dengan menjadikan desa sebagai pusat ekonomi dan kreatif untuk perkembangan peradaban baru. Dan kita bisa mulai memperbincangkannya di warung kopi.

Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah ngopi pagi ini?
☆☆☆☆☆